Monday, September 28, 2015

Awan hitamku

September sudah bukan dirinya lagi
Hujan kesayanganku disembunyikannya
Dibuatnya untuk membasahi 
bibirnya yang kering kerontang
Tanpa dibagi kepada penikmat lainnya

Awan sore ini mendung 
Sendu seperti kelopak matamu
Mendung adalah kesukaanku
Begitu juga denganmu, iya kesukaanku

Awan hitam kecil penjagaku
Turunkanlah hujan dalam arti lain padaku
Agar basah hati batu ini
Dan biarlah pecah agar kamu bisa mengambilnya
Sungguh, ini semua punyamu sekarang

Kepada awan hitamku,
Tidak pernah aku ingin semua ini berakhir
Ini sudah sempurna
Tolonglah tetap seperti ini saja
Sampai habis waktu kita

Sunday, September 20, 2015

06.51

Tersandar dengan malam
Membingkai langit-langit yang mungkin berpisah
Bodoh aku masih bersandar

Pergi aku sambil membawa bingkai
Berserakan di lantai
Pergi satu satu

Satu hal yang kupercayai
Aku peluk erat bingkai itu

By salsabila hanisa

Thursday, September 17, 2015

Burung biru kecil


kicauanmu adalah lagu 
lagu yang tak terdendangkan olehku
terbangmu adalah kebahagiaan
kebahagiaan kecil yang selama ini tak ku sadari ada disekitarku
tapi kita
kita adalah angan 
angan-angan yang sulit bersatu
bahkan goresan tintaku tidak bisa menggambarkan kamu

kicau sapamu selalu aku nantikan
caramu luluhkan hati batu ku
dan temaniku dikala senja turun
membuatku ingin menjagamu

kamu adalah burung biru kecil 
yang lepas dari sangkarnya
sekarang bermain bersama 
utusan neraka yang menemanimu setiap hari
menunggu pesanmu berbalaskan
tidurku belum nyenyak tanpa salam selamat mu

tapi ada dua hal yang aku sayangkan
yang pertama adalah sayang kamu
dan yang kedua adalah sayang kita tidak akan sampai melebur jadi satu

Sunday, August 16, 2015

01.28 AM

Gejolak rasa tanpa cara melampiaskan
Itulah aku saat melihatmu
Kalau jalanku bukan jalanmu
Maka teruskanlah jalanmu
Jika aku bukan ksatriamu
Maka temukanlah dia

Aku ingin kamu tahu
Aku hanya ingin membelai 
Belai halus kepalamu 
Dan berbisik
Kamu bisa berlari lebih jauh lagi

Tuesday, July 28, 2015

Sebuah puisi baku, untukmu.

saya bersumpah bahwa anda tidak harus pergi
meninggalkan saya sendiri bersama bangkai binatang mati

ladang hijau hanyalah ladang
bunga yang mekar hanyalah bunga
dan anda
hanya anda
tetapi saya melekat pada anda

bersinar matahari, cerah saat itu
lampu jalan di malam hari menghibur saya
tapi senyum anda
bisa lakukan keduanya

rasa anda lebih pahit dari kopi saya di pagi hari
saya minum tetap

tidak akan ada lagi basah baju saya karena air mata anda
karena tempat anda bersandar kini bukan saya
tidak akan ada lagi dekap anda saya rasakan
karena saya bukan lagi tempat anda mendekap

saya rindu apa yang telah kita lakukan berdua
kemana kata berdua yang kita ubah menjadi selamanya?
mungkin hanya ungkapan belaka
dimana asmara sedang merajai kita

mungkin anda hanya pergi untuk sementara
tapi sementara bertahan selamanya tanpa anda

-tidak diperuntukkan untuk siapa siapa walaupun judulnya untukmu

Tuesday, July 21, 2015

20-7-2015

Malam ini cantik sekali
Seperti kamu yang disana

Kota ini indah sekali
Seperti senyum mu yang tipis

Semerawutnya siang tadi
Hilang segera malam ini

Seperti rasaku, hilang sudah semuanya
Berteman bekas luka dan pemantik, aku tempuh waktu yang terus menyiksa

Di ujung malam ini, aku terenyuh
Mengapa bobrok ini tidak lekas pulih?
Kenapa tetesan hujan masih membasahi ubun ubunku ditengah mimpiku?

Keramahan mereka membuatku nyaman, bahkan ini baru yang kedua kalinya aku membaurinya

Sudah larut, angin masih sempatnya bercanda
Angin masih sempat hempas rambutku yang kaku

Ujung atap pun terlihat indah, seperti matamu saat terpejam disaat aku memperhatikan

Puisi ini bukan puisi rindu, tetapi caraku melepaskanmu

Kubuat ini untuk menunjukkannya
Menunjukkan bahwa aku bahagia
Rumahku disini 
Bersama senyum manis yang selalu mereka lemparkan ke orang orang yang bahkan tak mereka kenal

Nyamanku disini, tidak sedetikpun kulewatkan untuk menggerutu

Aku disini
Untuk mengatakan
Aku senang tanpamu

Wednesday, July 8, 2015

Dermaga kecil

Akulah dermaga kecil
Siap menampung kapal kapal reyot
Kapal reyot yang ingin ber istirahat

Akulah dermaga kecil
Yang didatangi
Lalu ditinggal begitu saja

Akulah dermaga kecil
Yang ditancapkan jangkar
Dan ditinggalnya lubang

Akulah dermaga kecil
Yang siap menerima kapal baru
Meski rindu perahu tua itu

Akulah dermaga kecil
Yang menyediakan keperluanmu
Tidak seperti yang lainnya

Akulah dermaga kecil
Yang dulu kau tinggali
Hingga akhirnya
Kamu berlabuh lagi
Tanpa selamat tinggal

Sunday, May 10, 2015

Pulang

Lampu kamarku sudah padam
Hanya hujan yang menemaniku gelap ini
Aku cari kamu
Tapi kamu tinggal bayangan

Lagu berlembar lembar tentangmu
Aku buat setiap malam
Sayang
Aku tidak lagi disitu
Aku tidak lagi bernyanyi untukmu

Burung yang terbang
Orang lalu lalang
Banyak pengalih pikiran
Tetap saja pikiranku tertuju padamu
Aku cari kamu
Tapi kamu tinggal aku tanpa ucapan

Air dari mataku rasanya beku
Air dari mataku rasanya hilang
Apakah kemarau?
Apakah aku sedang kemarau?

Mana hujanku?
Aku suka hujan
Aku rindu hujanku
Mana bahagiaku?
Aku rindu bahagiaku

Kemana aku pergi sekarang?
Jawablah 
walaupun aku tidak bisa mendengarmu
Jawab saja aku harus pulang padamu

Tapi sekarang, kemana aku?
Dimana aku harus singgah?
Ketika rumah tidak lagi ada
Tidak lagi ada untukku pulang

Friday, April 24, 2015

Dingin

Dingin
Dinginnya masuk ke rusukku
Aku masih masih duduk di perhentian terakhir manusia
Pohon pohon berdesir merdu
Sebuah teguran bagiku, ingatkah kamu pada dirinya? Bisik pohon 

Angin makin makin saja
Kuhangatkan diriku
Namun kehangatan itu memendekkan umurku
Aku tidak peduli, apalah arti aku ini?
Dikelilingi para usia satu, kepalaku mulai pusing

Lagi lagi angin berhembus, kali ini tulangku juga butuh selimut
Lalu aku terenyuh, mengingat selimutku hanya pelukmu

Kuhangatkan diriku lagi, aroma tanah yang basah merujutkan pikiranku pada mati
Namun, memangnya kenapa kalau aku mati? Aku sudah kehilangan 'rumah'ku
Apalah artinya aku lagi?

Aku bak gelandangan yang hidup dijalan
Jalanan tidak membuatku suka
Jalanan tidak membuatku nyaman
Jalanan tidak menjanjikanku kehangatan

Lagi lagi aroma tanah menusuk hidungku
Yang sekali lagi mengingatkan ku akan kematian

Tapi memangnya kenapa kalau aku mati?
Diriku tiadalah berarti
Jika kamu tidak disini

Friday, April 10, 2015

Sejuk

Baringanku malam ini, hanya ditemani bantal keras dan teman setianya
Guling kaku
Aku berbaring diantara keduanya

Sudah larut, mereka memaksaku memeluk
Namun yang ingin kupeluk hanya dirimu

Pesan tak kunjung berbalas, mungkin engkau telah terlelap disana
Sementara aku
Aku masih terjaga, siap menjagamu

Perilaku ku pahit
Aku minta maaf karenanya
Dapatkah aku obati dengan kasih sayang?
Karena hanya itu yang aku punya

Aku memang bukan orang baik
Kamu terlalu indah untuk aku dekap
Namun senyum mu dalam pagar
Tidak akan pernah gagal membuatku sejuk.

-dibuat untuk manusia yang terus muncul dalam benak