Friday, April 24, 2015

Dingin

Dingin
Dinginnya masuk ke rusukku
Aku masih masih duduk di perhentian terakhir manusia
Pohon pohon berdesir merdu
Sebuah teguran bagiku, ingatkah kamu pada dirinya? Bisik pohon 

Angin makin makin saja
Kuhangatkan diriku
Namun kehangatan itu memendekkan umurku
Aku tidak peduli, apalah arti aku ini?
Dikelilingi para usia satu, kepalaku mulai pusing

Lagi lagi angin berhembus, kali ini tulangku juga butuh selimut
Lalu aku terenyuh, mengingat selimutku hanya pelukmu

Kuhangatkan diriku lagi, aroma tanah yang basah merujutkan pikiranku pada mati
Namun, memangnya kenapa kalau aku mati? Aku sudah kehilangan 'rumah'ku
Apalah artinya aku lagi?

Aku bak gelandangan yang hidup dijalan
Jalanan tidak membuatku suka
Jalanan tidak membuatku nyaman
Jalanan tidak menjanjikanku kehangatan

Lagi lagi aroma tanah menusuk hidungku
Yang sekali lagi mengingatkan ku akan kematian

Tapi memangnya kenapa kalau aku mati?
Diriku tiadalah berarti
Jika kamu tidak disini

No comments:

Post a Comment